life in general

Apa yang salah dengan kultwit?

A note to my readers who don’t speak Indonesian (probably there are less than 6 of you out there, but I respect you): I’m sorry this time I have to write in the language you don’t understand. But I have to do it because firstly I suppose kultwit (means lecturing via tweets) is mostly an Indonesian phenomenon β€”at least I’ve never seen it done by non-Indonesian people in my timeline. Secondly, I attempt to reach a wider audience in Indonesia regarding this topic, and I suspect using English deters this. Thank you for your patience and understanding.

Di Indonesia mungkin susah menemukan pengguna tetap Twitter yang tidak kenal kultwit, yakni rentetan twit yang membahas satu topik. Tujuan kultwit bisa untuk mengajukan suatu pemikiran (misalnya “industri film di Indonesia masih pekat diwarnai praktek monopoli”), melukiskan kembali suatu hal atau peristiwa (“gejolak dalam KPK di balik penetapan Miranda Gultom sebagai tersangka”), atau mengubah pendapat orang lain (“mengapa sebaiknya Anda tidak lagi mendukung rencana mempertahankan subsidi BBM”).

Tujuan satu kultwit dengan yang lain bisa berbeda, tapi formatnya selalu sama. Topiknya cukup kompleks, sehingga jika ditulis utuh akan mencakup lebih dari satu alinea. Topik ini lalu dicacah menjadi banyak kalimat pendek dalam rentetan twit; umumnya satu twit memuat satu sampai dua kalimat. Twit-twit ini harus dibaca berurutan (di timeline berarti dari bawah ke atas) untuk bisa memahami alur pikiran si penulis.

Sudah cukup sering saya mengutarakan keberatan saya akan kultwit, lewat Twitter maupun dalam pergaulan di dunia nyata. Beberapa hari yang lalu ada yang bertanya pada saya: jika saya tidak suka kultwit, mengapa saya tidak unfollow saja mereka yang sering melakukannya? Pertanyaan ini cukup masuk akal. Kalau saya tidak suka film horor, sudah cukup jika saya tidak menontonnya, bukan?

Jawaban saya atas pertanyaan ini adalah, bagi saya kultwit lebih dari sekedar selera. Bagi saya, kultwit adalah sebuah peluang yang terlewatkan (missed opportunity). Kultwit itu sepadan dengan slide PowerPoint yang buruk: keduanya adalah contoh kegagalan mencapai tujuan komunikasi gara-gara penyalahgunaan format.

Kultwit bisa disejajarkan dengan slide presentasi yang buruk dan inefektif

Semua orang yang menulis di ruang terbuka mulai dengan delusi bahwa topik yang mereka sampaikan layak mendapat perhatian orang lain. Beberapa penulis bahkan (merasa) punya misi untuk memberi pencerahan bagi orang lain. Sungguh sayang jika misi itu gagal karena mereka keliru memilih “kendaraan” (medium), dan ngotot memaksa “muatan” (pesan) bisa diangkut oleh “kendaraan” yang salah itu.

Saya menduga pelaku kultwit memilih Twitter karena mereka berharap meraih audiens yang lebih luas. Bisa jadi mereka mengaitkan besarnya audiens dengan jumlah follower mereka. Alasan lainnya, mereka menginginkan audiens yang responsif, dan bagi mereka Twitter bisa memberikan hal itu.

Kultwit memang sepertinya menjajikan dampak yang luas. Sayangnya dampak luas ini nyaris mustahil tercapai karena format Twitter menyebabkan audiens sulit mencerna pemikiran si penulis. Mengapa?

Pertama, tulisan di media cetak atau blog memberi kita kebebasan menentukan waktu dan kecepatan baca sesuai kemauan sendiri. Kebebasan ini hilang dalam Twitter. Audiens dipaksa mencerna informasi dalam waktu dan kecepatan yang nyaman buat si penceramah tapi belum tentu pas buat dirinya.

Kedua, karena satu twit akan segera ditumpuk dengan twit-twit lain, pembaca akan kerap mengalami distraksi.

Ketiga, isi kultwit akan ditampung oleh pembaca dalam memori jangka pendek. Kapasitas memori jangka pendek manusia selalu terbatas. Penelitian psikologi kognitif menunjukkan bahwa kapasitas optimal memori jangka pendek kita adalah 7Β±2 chunk informasi. Kultwit yang terdiri lebih dari 9 twit akan mustahil tertanam dalam ingatan si penerima.

Keempat, Twitter memaksa penulis memecah satu butir pikiran (dalam artikel biasa umumnya mencakup satu paragraf) menjadi beberapa kalimat pendek yang tidak mungkin hadir berbarengan. Padahal seringkali kita harus lebih dahulu secara simultan melihat keseluruhan elemen yang ada sebelum bisa mengenali pola yang utuh. Ibaratnya, kita harus lebih dulu melihat seluruh tanaman dan benda lain dalam sebuah area, sebelum kita bisa mengenalinya sebagai sebuah taman bergaya Jepang.

Kelima, kalaupun kita mau menunggu sampai satu kultwit selesai, untuk membacanya dari awal sampai akhir di timeline kita harus mulai dari bawah ke atas. Ini bertentangan dengan cara kita memproses informasi dari bentuk tulisan pada umumnya: dari atas ke bawah. Akibatnya, kita membutuhkan usaha mental yang lebih untuk mengolah isi kultwit, apalagi jika mencakup lebih dari 9 twit.

Twitter tidak hanya membuat pembaca susah mengolah isi kultwit. Karena Twitter mirip gelombang yang datang dan pergi, informasi yang dibawanya menjadi sulit dihadirkan kembali (retrieve) melalui penelusuran (search) di Internet. Padahal, kalau kita percaya pemikiran kita cukup penting untuk diperhatikan saat ini, tentunya itu akan cukup penting juga untuk diperhatikan di lain waktu, bukan?

Daripada “mengencerkan” (dumbing down) pemikiran anda dan memaksakannya agar muat di Twitter, lebih baik gunakan medium dan format yang lebih menghargai waktu audiens anda. Ada beberapa jalan: menulis artikel di blog, meng-upload slideshow di SlideShare atau dokumen di Scribb, atau yang paling praktis: menggunakan fasilitas Twitwall.

Selanjutnya, anda bisa menggunakan Twitter untuk menyebarkan link materi tersebut. Jika materi anda memang menarik dan relevan, akan mudah bagi anda untuk menulis umpan linknya (link-bait). Jika materi anda memang solid, akan banyak orang yang me-RT twit itu, atau meng-twit materi yang anda buat.

Kultwit bisa dianalogikan dengan dosen yang bicaranya terpotong-potong tapi terus berteriak memberi kuliah di klub malam yang hingar-bingar. Mari bertanya ke diri sendiri: kalau kita sungguh berniat membuka pikiran atau menggerakkan hati orang lain, apakah kita tidak punya cara yang lebih ampuh selain berteriak ceramah di tempat yang hiruk-pikuk? Tidakkah lebih cerdas jika kita melakukannya di ruang yang tenang, di waktu yang mereka pilih sendiri?

Atau mungkin, ternyata tujuan pemberi kultwit yang sesungguhnya adalah untuk menarik perhatian belaka, bukannya untuk membuka pikiran dan hati orang lain? Kalau benar, bukankah kultwit adalah bentuk komunikasi yang bertujuan untuk memuaskan diri-sendiri (self-serving) tapi dilakukan dengan cara menginterupsi orang lain?

Apa pendapat anda, pembaca terhormat?

Standard

25 thoughts on “Apa yang salah dengan kultwit?

  1. Pingback: Apa yang Salah dengan Kultwit? | Indonesia Buku

  2. danar says:

    sir, why you dont use the translating gadget by Google(TM) so you can post in english and we used to read it in Indonesian by the gadget? thanks, but I’m agreeing your topic above, πŸ™‚

  3. saya pernah sebagai pelaku kultwit. dan hasilnya, emang ga semua orang ngerti apa yang di kampanyekan (walaupun niat hati baik dan tulus) orang ngeliatnya sebagai pencari perhatian. tapi, sebagai pembaca, untuk sebagian topik, cukup berhasil. jadi tergantung topiknya mungkin πŸ˜€

  4. Well said πŸ™‚ Aku mengikuti beberapa kultwit dan akhirnya merasa ‘terabaikan’ karena gagal mengikuti dari awal hingga akhir, hehe. Say a one liner that matters – I think this is what twitter’s all about :p

  5. Entahlah, yang jelas sekian lama main Twitter ilmu bertambah banyak dari kultwit2..

    Menurut saya tidak bisa disejajarkan dgn sldie powerpoint digambar, sebab kultwit bukan berupa poin2, tp potongan2 saja.

    Untuk baca atas ke bawah, apa bedanya dgn baca kanan ke kiri sebagaimana kebanyakan manga?

  6. agung says:

    Cukup setuju dengan kata2 “mencari perhatian” memang selain niat baik tulus ingin berbagi, terselip pencitraan di dalam kultwit. Di tambah respon pengguna twitter yg lebih menyukai informasi instan. Kultwit bisa jd alternatif informasi layak nya road sign di tol.

  7. edofaqeeh says:

    setuju mbak dengan idenya. bisa jadi manfaat dari informasi/ ilmu yg disampaikan lewat kultwit tidak terserap secara optimal karena ‘kesalahan2’ tadi.
    tambahan utk paragraf 13, saat ini twitter (sudah) memberikan batasan waktu suatu twit utk ‘bertahan’ di timeline yaitu selama 2 minggu-CMIIW. jadilah, ketika kita hendak membacanya di lain waktu, mungkin kultwit tadi sudah terhapus/ hilang.

    satu yang jadi pertanyaan saya, bagaimana dengan hadirnya wesbsite yg menyediakan tempat utk kultwit2 seperti chirpstory.com ?? πŸ™‚

  8. rosinsko says:

    Saya setuju bahwa twitter itu harusnya memuat teks singkat. Namun, saya melihat banyak pembaca sekarang yang sering malas untuk mengeklik tautan blog atau artikel yang di-tweet-kan. Jadi ide yang bagus itu rasanya kurang dilihat orang. Selain itu pembuat kultwit biasanya menginginkan percakapan (perhatian) atas ide-idenya, oleh sebab itu twitter yang menawarkan kesederhanaan dan kecepatan membuat obrolan lebih cepat dan mengalir. Akan tetapi tidak jarang, ujung-ujungnya malahan debat kusir, karena follower tidak membaca alur pemikiran secara penuh. Mereka melihat teks tapi tidak melihat konteks. Jadi “twitwar” deh… huehehehe…

  9. Melao Kamisama says:

    Mungkin ada jalan tengah buat orang-orang yang berargumen kultwit untuk membagi info, bisa kultwit misal kurang dari 10 poin,lalu diakhiri dengan link blog untuk pembahasan lebih lanjut. Jadi kultwit sifatnya hanya untuk “teaser” isi blog. Sekalipun nanti pasti ada aja yang nyinyir sih. πŸ™‚

  10. (Mungkin) tergantung cara penulisan. Jika tulisan bersambung, memang bikin pening, tapi jika 140 dimanage dengan baik, setiap twit punya pesan masing-masing.

    Memang untuk menyampaikan isu tak cukup hanya twitter, harusnya twitter bisa jadi jembatan untuk media-media lain yang lebih proporsionnal untuk menyampaikan pendapat utuh kita. Salam kenal

  11. artikelnya tajam, pointnya dapet, tapi sependapat dengan mr. rosinsko di atas, jarang banget yg mau nge-klik link yg isinya artikel lengkap, apalagi klo twitteran pake BB.. ada aplikasi online u/ archive tweet, biasanya aku pake chirpstory, jadi klo slese kultwit, bisa diarsip dan dibaca dari atas ke bawah.. jadi mungkin solusinya dua-duanya, follower yg tertarik dengan topik tweet bisa ngikutin kultwit, klo pun terlewat ada archive-nya via chirp, hehe.. Salam x)

  12. Setuju sama beberapa point di artikelmu: seringkali kultwit terutama yang terlalu talky dan wordy bisa nggak efektif karena konteks keseluruhannya jadi terpecah2. Apalagi kalau udah yang preachy dan isinya retorika semua kadang buatku annoying.
    Tapi sama dgn Melao Kamisama dan beberapa komen di atas juga, banyak juga yang kultwit sebagai teaser dari blog atau links ke referensi2 tertentu, dan kadang sumber referensi ini ga cuma satu.

    If I do ‘kultwits’ (I don’t really call it that way though:)) I prefer something more like ‘twitpic stories’. Aku sendiri basically hobi posting image baik di twitter mau pun blog, dan website kerjaan pun sangat image-based, jadi seneng aja kalo bisa sharing dan ngobrol. Jadi biasanya udah ada sumbernya dulu yang itu nanti dishare teaser2nya di twitter, dengan links dan twitpics. Somehow people in my timeline radius seem to love pictures so they respond better to images that somehow attract them to click on the links and enter my website/blog.

    Tapi memang mungkin sekarang yang ikut twitter makin banyak dan konsekuensinya makin banyak yang adopting kultwit as a strategy to attract network/followers atau entah untuk apa. Twitter is more crowded now, and noisier. Jadi ya, moga2 ke depannya sih cara-cara sharing bisa lebih concised dan efektif seperti poinmu di artikel.

  13. Emin says:

    Saya pribadi tidak ada masalah, toh sekarang udah ada chirpstory yang biasanya dijadikan “favorit tweet” oleh si pemberi “kuliah”. Mostly (orang2 yang suka ngasi kultwit) di timeline saya biasanya langsung di masukkan ke chirpstory oleh user lain. It’s fine.

  14. Kultwit itu hanya sekedar ingin mencari tambahan follower … nothing more. Lagian siapa pula yg pertama kali menyebut “rentetan massive twit tentang suatu topik” dengan istilah kultwit? Sungguh terlalu keren dan lebay bila diidentikkan dengan aktivitas “memberi kuliah.” Dengan keterbatasan 140 karakter, siapapun bisa saja bercerita tentang suatu hal dengan beberapa kali twit, tak perlu segala diberi label kultwit.

  15. @ramananatar says:

    Saya malah berterima kasih sama orang2 yg bersedia membagi pengetahuannya via kultwit. Ringkas dan to-the-point. Apalagi yg sifatnya membuka pemahaman. Sy kagum sama orang yg bisa merangkum pesan berbobot dalam kalimat pendek.

    Pengguna twitter tentu tahu keterbatasan format twitter. Justru dgn keterbatasan itu kita mudah menyaring, siapa yg layak di follow. Sy tidak banyak memfollow akun yg isinya gak penting. Sy fokus di orang2 kompeten di topik yg sy suka. Dan yg sy tunggu adalah kultwit-kultwitnya! Kalo ada topik penting, baru browsing untuk cari tahu lebih dalam. Sy baca kultwit biasanya nunggu sampe topiknya selesai, baru baca pelan2 dari bawah.. Kalo lagi kultwit malah di skip dulu.. baca/ngerjain hal lain.

    Masalah memori jangka pendek, bagi saya semua bacaan juga disimpen dalam memori jangka pendek, kecuali bacaan itu memang minat kita.. Semua hal yg berkesan, otomatis akan diingat. Gak peduli dia dibaca via twitter ato tulisan di berlembar-lembar koran tiap pagi.

    Jadi, bagi saya kultwit itu asik. Apalagi topiknya adalah minat saya, atau penting bagi sy dalam waktu dekat. Apalagi yg ngasih kultwit bener2 paham dengan yg dia tulis. Top dah. Kesimpulannya, jangan buang waktu. Pilih-pilih orang sebelum follow dan jangan ragu mengunfollow kalo isi timeline sudah mulai gak menarik

  16. @therendra says:

    Pada akhirnya, saya sependapat untuk tidak sependapat dengan mita. Bagi saya, apapun yang anda sebut kultwit itu, suka tidak suka adalah masalah selera. Mungkin saya menganalogikan orang tua yang lebih menikmati siaran radio dan anak muda yang gencar berburu DVD bajakan. Whatever.
    Bagi saya peluang twitter untuk digunakan apa saja masih terbuka luas. Twitter itu media. Kultwit hanya salah satu bintang dalam konstelasinya. Awalnya memang kesulitan mengikutinya, tapi kalau kita punya minat dengan tema yang sedang dibahas, kenapa tidak? Saya mengalami masa-masa “kultwit apaan sih?”, namun memutuskan mengikuti sampai mana saya muak. Tapi tidak. Saya melihatnya sebagai kesempatan. Menjaring follower? Kenapa tidak? Kalau menemukan orang yang bisa berbagi minat yang sama, saya pribadi seperti menemukan pelanggan yang bersedia memakan kue buatan saya. Dan itu bahagia.
    Pesan tidak sampai? Tidak juga. Pada banyak kesempatan, beberapa orang melihat taman ala jepang itu. Kuliah berteriak-teriak di bingar kelab? Lalu kenapa? Ada satu pendengar yang menyimak semuanya, lebih berharga daripada seribu yang bersikap tertarik. I write to inspire at least one person.
    Tawaran meletakkan materi kultwit di media lebih tepat sangat menggoda, tapi pelaku kultwit mungkin terlalu malas melakukannya. Saya sendiri menganggap apapun yang saya twit sebagai siaran sekali airing di TV. Mereka yang ingin menontonnya kembali boleh merekamnya dengan tombol favorit.
    Saya tidak jamin banyak orang menemukan pencerahan dari artikel ini. Tapi jelas anda menyentuh saya, dan saya harus bilang cara anda mengemukakan isi kepala lebih dari brilian. Saya hanya memutuskan berdiri di sudut ring yang berbeda.
    Terima kasih telah menulis ini. Saya sudah menulis beberapa serial twit bertema, kultwit mungkin, dan akan terus menulisnya untuk membuktikan suatu hari, anda, atau saya, salah.

    Regards,
    Rendra.

  17. Reblogged this on Blog Kemaren Siang and commented:
    Akhir-akhir ini saya mendengar istilah baru (sudah lama sih, mungkin saya saja yang telat): kultwit. Pada intinya, kultwit itu kumpulan tweet yang bahasannya jadi satu. Dengan kata lain, artikel yang dipisah jadi tweet-tweet. Saya jadi heran, orang mana yang menciptakan cara tak mangkus, tak sangkil, dan menyusahkan seperti ini. Saya ingin membahasnya tetapi artikel berikut sudah menjabarkan panjang lebar. Silakan disimak.

  18. Have you ever thought about adding a little bit more than just your
    articles? I mean, what you say is valuable and everything.
    Nevertheless just imagine if you added some great photos or videos to give your posts
    more, “pop”! Your content is excellent but with images and clips, this blog could undeniably be
    one of the best in its field. Terrific blog!

  19. Setuju. Saya adalah salah satu kultwit haters. Entah kenapa “pelajaran” yang didapat dari kultwit nggak nancep dan, maaf saja, memberi kesan dangkal pada topik yang harusnya menarik. Beda dengan membaca blog, pembahasannya terasa lebih dalam.

  20. ranita says:

    Halo Mas, wah menarik tulisannya ^^

    tapi menurut saya sebagai salah satu penikmat kultwit, rasanya sah-sah saja twitter dijadikan ajang untuk menarik perhatian..
    memang sering terjadi distraksi, tp jika memang materinya menarik, dibandingkan saya harus buka link dan masuk ke website (yang agak berat dibuka via mobile), lebih baik saya masuk ke profil pemateri dan pantengiln TL nya dari awal ^^

    sekian dari saya, trims ^^

  21. Saya sedang mencari tulisan tentang kultwit dan menemukan tulisan ini. Saya pikir benar apa yang dikatakan mbak Paramita tentang informasi sepotong-sepotong yang disampaikan melalui kultwit. Ada banyak informasi yang juga tidak bisa diverifikasi kebenarannya. Fenomena kultwit ini dan juga banyak yang menyukainya dengan demikian menurut saya merupakan salah satu tanda bahwa kebanyakan orang Indonesia memang tidak mau repot-repot membaca tulisan yang panjang.

  22. Pingback: Seputar penggunaan kultwit | Soenting Melajoe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s