life in general

Adakah cara yang “lebih benar” untuk berwisata?

LON28012

Martin Parr, The Leaning Tower of Pisa. 1990.
Copyright Martin Parr/Magnum Photos


Akhir minggu kemarin (25-26 Mei 2013), lini masa Twitter ramai dengan komentar dan percakapan tentang bagaimana ibadah Waisak di Candi Borobudur diganggu oleh turis-turis. Beritanya bisa dilihat di
sini, misalnya. Ada juga tulisan di blog dari seorang peserta ibadah yang menceritakan kesedihan dan kekesalannya akan kejadian malam itu.

Seperti biasa, muncullah komentar yang membahas tingkah laku turis ini melalui pendekatan “mentalitas bangsa”, misalnya:

Screen Shot 2013-05-26 at 8.39.17 PM

Atau penjelasan seperti ini

Pemahaman saya sejauh ini tentang psikologi membuat saya percaya dalil:

 Behavior = ƒ(Personality, Environment).

Arti singkatnya, tingkah laku (“Behavior“) adalah fungsi dari faktor yang melekat dalam diri seseorang (“Personality”) seperti kepercayaan, sistem nilai, cara mengolah informasi, sifat; dan faktor eksternal dari lingkungan (“Environment”), baik fisik maupun non-fisik seperti kebudayaan, struktur sosial-ekonomi, hukum dan peraturan, sistem insentif, dan lain-lain.

Seringkali kita terlalu cepat untuk menjelaskan penyebab suatu tingkah laku hanya dengan melihat faktor Personality dan mengabaikan faktor Environment. Padahal peran faktor Environment sangat besar.

Contoh paling gampang adalah kita bisa membuat sebuah komunitas atau massa bertingkah laku berbeda dengan memodifikasi faktor lingkungan (misalnya peraturan, sistem insentif, pengawasan). Perubahan tingkah laku ini berlangsung tanpa harus mengubah faktor Personality.

Dalam membahas perilaku turis yang mengganggu ibadah Waisak, saya memilih tidak membahas soal “mentalitas” atau “pola pikir”. Saya akan memfokuskan pada faktor lingkungan, sebelum dan saat upacara berlangsung di Borobudur.

Saya curiga panitia tidak menyangka betapa besar minat turis untuk mengunjungi acara ini. Akibatnya, tidak sempat dibuat dan disebarkan aturan yang sangat jelas tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan, tidak dibuat demarkasi untuk turis, tidak sempat merekrut bala bantuan cukup yang bisa menertibkan pengunjung, dan kesalahan pengorganisasian lainnya.

Jika tahun depan panitia lebih siap, saya rasa kita bisa tetap menjaga kehikmatan ibadah Waisak buat umat Buddhis, tanpa menutup acara ini untuk turis. Bukankah tiap hari tetap banyak umat Katolik bisa tetap khusuk beribadah di St. Petrus Vatikan atau Notre Dame Paris walaupun dua gereja ini adalah tujuan wisata yang sangat populer?

Selain itu, harus diakui bagaimanapun juga upacara Waisak telah memberi rejeki buat penduduk di sekitar Borobudur.

Tapi apakah berwisata hanya sekedar masalah peraturan yang jelas dan ditegakkan dengan tegas di tujuan wisata? Apakah ada cara yang lebih “benar” dalam berwisata?

***

Di tengah ramainya kicauan tentang Waisak di Borobudur, ada satu komentar yang menarik perhatian saya:

Twit ini cukup eksplisit menyatakan bahwa cara yang “benar” menjadi wisatawan upacara Waisak di Borobudur adalah dengan ikut menghayati rasa damai –saya duga karena makna Waisak berkaitan dengan pesan kedamaian universal buat umat manusia.

Adakah cara yang “lebih benar” untuk menjadi pelancong, lebih dari sekedar menghargai aturan dan budaya di daerah tujuan wisata? Tidakkah “hargai aturan dan budaya di tempat kita berada” berlaku buat semua orang, terlepas ia sedang melancong atau tidak?

Kita mungkin pernah membaca kata-kata “bijak” semacam ini:

“Tourists don’t know where they’ve been, travelers don’t know where they’re going.”
—Paul Theroux.

“The traveler sees what he sees, the tourist sees what he has come to see. ”
—Gilbert K. Chesterton.

“The traveler was active; he went strenuously in search of people, of adventure, of experience. The tourist is passive; he expects interesting things to happen to him. He goes ‘sight-seeing.”
—Daniel J. Boorstin

Betulkah menjadi traveler lebih “terpuji” daripada menjadi turis? Apakah ada perbedaan yang penting yang bisa menjadi dasar penggolongan kasta pelancong?

***

Sesungguhnya pertanyaan ini sudah terngiang-ngiang di kepala saya semenjak 2 minggu yang lalu. Saya beruntung bisa berangkat ke Wina dan Praha dalam rangka outing trip kantor. Saya berangkat dengan perasaan was-was, bisakah saya menikmati perjalanan ini yang harus dilakukan dalam rombongan besar pacakaged tour?

Sebetulnya perjalanan kemarin bukanlah kali pertama saya mengikuti paket tur berombongan. Waktu saya berusia 10 tahun, orangtua saya mengajak saya dan kakak keliling Eropa dalam sebuah paket tur. Saat itu majalah tempat ibu saya bekerja menyelenggarakan paket tur bersama pembaca, dan beliau harus menyelia kegiatan ini. Karena saat itu pas liburan sekolah, berangkatlah kami sekeluarga. Dalam ingatan saya, perjalanan ini lumayan berisi kenangan menyenangkan, walau konteksnya selalu bersama keluarga dan bukan dalam rombongan tur.

Saya tumbuh menjadi orang yang senang berwisata independen, pergi bersama paling banyak bersama satu orang lain kawan perjalanan (biasanya pacar saat itu). Saya selalu bersemangat saat merencanakan perjalanan: mencari tahu apa yang menyenangkan untuk dilakukan atau disantap di suatu tujuan, museum atau pameran mana yang perlu dikunjungi. Sesenang-senangnya saya membuat rencana perjalanan, saya ingin hari-hari saya saat mengunjungi suatu tempat berlangsung bebas dan fleksibel.

Saya gelisah karena berwisata dengan paket tur berombongan menghilangkan  kemandirian dan kebebasan, yang buat saya sungguh berharga. Saya senang melihat diri saya sebagai traveler berpengalaman, yang pergi ke suatu tempat setelah mempelajari tempat itu sebelumnya; yang pergi karena didorong rasa ingin tahu dan semangat untuk menemukan pengalaman baru (discovery); untuk mencari pengalaman tak terduga yang indah (beautiful serendipity); yang mengejar pengayaan-diri dalam perjalanan.

Saya sering memandang rendah rombongan turis yang keluar dari bis besar untuk sibuk berfoto dan berburu suvenir, tanpa benar-benar ingin tahu tentang sejarah atau keistimewaan dari tempat yang ia jadikan latar belakang fotonya.

Selain itu, saya gelisah karena saya tahu saya merasa sangat lelah batin jika saya menghabiskan waktu lama dalam kelompok yang besar. Energi saya bangkit lagi justru kalau saya sendirian. Tapi karena biaya perjalanan ini ditanggung kantor dan saya belum pernah ke Praha, saya tetap ikut.

Pada awal perjalanan saya sering kesal. Bisa dibilang rombongan tidak pernah berangkat tepat waktu karena nampaknya kebiasaan jam karet di Jakarta tidak ditinggal. Akibatnya, waktu yang sudah dialokasikan ke suatu tempat harus dipotong, dan kunjungan ke tempat itu harus dipersingkat.

Saya juga jengkel sekaligus heran karena kebanyakan peserta dalam rombongan tidak mendengarkan tuturan pemandu lokal. Mereka sibuk mengobrol satu sama lain, atau   berfoto dalam berbagai pose. Buat mereka, tempat wisata tidak lebih adalah backdrop untuk foto diri atau bersama teman-teman.

Sampai suatu titik saya memutuskan untuk mengamati mereka, kolega saya yang nampak tidak keberatan bahkan menikmati melancong dalam rombongan paket tur. Saya memutuskan bahwa mengamati mereka dengan seksama sebagai bagian penting dari perjalanan. Saya berusaha keras agar pengamatan saya ini tidak dibiaskan oleh cara saya berwisata. Dan di situlah saya mendapatkan apa yang saya cari: penemuan dan pengalaman baru.

***

Saya percaya berwisata adalah bagian dari proyek manusia untuk menjadi lebih bahagia (ulasan yang lebih mendalam bisa dibaca di buku The Art of Travel oleh Alain de Botton). Jika ada banyak jalan menuju kebahagiaan dan tiap manusia bebas memilih selama tidak merugikan pihak lain, maka tidak bisa diterima jika ada satu jalan yang benar untuk melancong.

Dari pengamatan saya melihat bahwa buat kolega saya peserta paket tur rombongan, berwisata adalah proyek penting untuk membuat memori visual. Kebahagiaan dari berwisata terutama didapat dari saat memori visual itu dibagi dengan orang lain (keluarga, teman, kenalan). Munculnya smartphone dan media sosial membuat proyek ini semakin mudah dan instan, sekaligus menambah pihak yang diajak berbagi.

Apakah berbagi memori visual ini suatu tujuan akhir atau untuk mencapai tujuan lain, seperti misalnya status? Bisa ya, dan bisa juga tidak: pengamatan saya berhenti di saat pembuatan memori visual tersebut berlangsung, tidak berlanjut pada saat berbagi. Saya berintuisi bahwa peningkatan status belum tentu lebih penting dari penguatan ikatan sosial yang dihasilkan dari berbagi memori visual itu.

Memori visual terutama hadir dalam bentuk foto dan suvenir.Ini menjelaskan mengapa berfoto adalah bagian utama dan esensial dalam kegiatan mengunjungi suatu tempat, lebih penting daripada menghayati “rasa” berada di tempat itu, atau memahami apa yang membuatnya istimewa. Ini menjelaskan mengapa kebanyakan foto selalu merekam diri, baik sendirian maupun bersama orang-orang lain. Ini menjelaskan mengapa penyelenggara tur berusaha cukup keras untuk memastikan foto kelompok, lengkap dengan spanduk, berjalan lancar.

Karena tujuan utama (walau mungkin tidak disadari sepenuhnya) dalam berwisata adalah membuat memori visual, maka hal-hal seperti penemuan dan pengalaman baru menjadi sekunder. Di sinilah mengapa paket tur menjadi sangat menarik: ia bisa menekan “ongkos” dari penemuan dan pengalaman baru, yakni ketidaknyamanan menghadapi hal asing dan trial-error. Selain itu, paket tur rombongan juga menawarkan companionship dan potensi dukungan sosial, sesuatu yang menjadi lebih penting di tempat asing. 

Apakah orang Indonesia kebanyakan akan menjadi pelancong pencari memori visual? Saya tidak tahu. Apa yang kita lihat dari betapa bersemangatnya turis mengambil foto saat upacara Waisak di Borobudur berlangsung konsisten dengan pengamatan ini. Sekali lagi, untuk menjamin hak umat Buddha beribadah dengan hikmat, yang perlu dilakukan adalah dengan mengarahkan semangat membuat memori visual ini. Ini jauh lebih realistis daripada menganjurkan turis mengubah tujuan utama proyek wisatanya, apalagi “mentalitas” nya.

***

Kembali ke pertanyaan di judul tulisan panjang ini: adakah cara yang “lebih benar” untuk berwisata? Betulkah menjadi traveler lebih benar daripada menjadi turis? Saya kira tidak. Pembedaan (atau pertentangan) antara traveler dan turis adalah masalah estetis, bukan etis. Dan snob adalah saat kita merendahkan orang lain berdasarkan pertimbangan estetis.

Untuk menutup:

“Disdaining tourists is the last permitted snobbery, a coded way of distancing oneself from the uncultured classes.”
—Anthony Peregrine, “Are you a tourist or a traveller?” 

“Have you noticed how tourists are other people?”
—Richard Donkin, “Tourists R Us”

Standard

5 thoughts on “Adakah cara yang “lebih benar” untuk berwisata?

  1. Lisa says:

    Saya juga merasakan hal yang sama saat jalan2 dengan teman2 kantor. Janji kumpul jam 3 ternyata lewat 1 jam masih belum datang. HP tidak ada yang diaktifkan (alasannya mahal kalau mengaktifkan BB). Mereka yang terlambat dan lupa tempat berkumpul tidak berusaha mencari tapi malah menyalahkan kita yang akhirnya berusaha mencari sampai satu gedung. Sudah dewasa tapi masih bertingkah seperti anak kecil. Hanya mementingkan dirinya sendiri dan tidak punya rasa tanggung jawab. *maaf jadi curhat*

  2. saya jadi ingat waktu sma dititipkan orang tua berangkat ke israel pake tour. Saya lebih suka menyendiri dari barisan ibu2 memperhatikan org2 lokal. Seneng bgt pas wkt bebas malem2 tanpa sengaja kesasar. Itu momen paling berkesan karena bisa melihat wajah lain dari Yerusalem

  3. saya jadi keingat pada saat saya memimpin perjalanan wisata dan saya pun juga sering mengamati tingkah mereka. Sampai di tempat wisata mereka bukannya menikmati keindahaan alamnya, tapi mereka sibuk cari colokan untuk ngecas gadget mereka, agar mereka ngak lewatkan sesi photo2 untuk di upload di social media, even ada yang cari sinyal untuk berburu2 check in where are they now. Liburan atau mau ngapain ya mereka ? *.*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s