life in general

Mengapa “follow your passion” adalah saran yang menyesatkan

Dari Holstee.com

Dari Holstee.com

Catatan singkat tentang penerjemahan “passion” menjadi renjana:
Saya berencana menulis topik ini dalam Bahasa Indonesia. Tantangan pertama yang saya hadapi adalah menerjemahkan kata “passion” itu sendiri. Seringkali dalam konteks ini “passion” diterjemahkan menjadi “semangat”, dan ini  terlalu longgar. Kadangkala “passion” dialihbahasakan menjadi “hasrat”. “Hasrat” adalah sinonim dari keinginan, sehingga lebih cocok untuk menerjemahkan “desire“. 

Dalam kamus Bahasa Inggris (Oxford), definisipassion” adalah “strong and barely controllable emotion“. Google Translate menyarankan kata “renjana” untuk “passion“. Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan “renjana” sebagai “rasa hati yang kuat (rindu, cinta kasih, berahi”). Dengan demikian, saya rasa cukup tepat menerjemahkan “passion” menjadi “renjana”. Kata “renjana” memang belum umum, tapi mungkin kita bisa mulai mempopulerkannya.

***

Sama seperti di beberapa negeri lain, sebagian kelas menengah urban di Indonesia sedang getol mengikuti “the cult of passion” alias kultus renjana. Kegetolan ini saya rasa juga karena dikompori oleh mereka yang menyebut dirinya motivator, “life coach“, dan yang sejenisnya.

Di Amerika, kultus renjana diduga dipicu oleh pidato Steve Jobs di acara wisuda Stanford University, musim panas 2005. Steve bersabda,

“…the only way to do great work is to love what you do. If you haven’t found it yet, keep looking.”

Isi pidato Steve Jobs akhirnya diringkas menjadi sebuah slogan, “Ikuti renjanamu”, dan lahirlah kultus renjana.

Ide dasar dalam kultus renjana adalah:

  1. Dalam diri setiap orang, selalu ada renjana yang sudah sejak lama hadir (“pre-existing”). Renjana itu menanti kita, siap untuk ditemukan.
  2. Jika kita berhasil menemukan renjana itu, kita harus mengikutinya dalam pekerjaan atau karir. Hanya dengan bekerja sesuai renjana, kita bisa mendapatkan kebahagiaan dan keberhasilan.

Singkat kata, dalam kultus kepercayaan ini renjana adalah titik awal atau prasyarat dari kebahagiaan dan pencapaian dalam pekerjaan. Bekerjalah dalam bidang yang kita cintai, maka uang dan kesuksesan akan datang —entah bagaimana caranya. Jika kita tidak berhasil mengenali renjana kita, maka hampir mustahil kita bisa menemukan kepuasan dalam kerja.

Ide dasar dalam kultus renjana terasa intuitif, tapi belum tentu sesuai dengan kenyataan. Jangan lupa anggapan bahwa bumi adalah datar dan matahari mengitari bumi pun terasa intuitif, tapi terbukti salah.

***

so-good-they-cant-ignoreCal Newport adalah seorang profesor ilmu komputer di Georgetown University. Pengalaman pribadi Newport mendorongnya melakukan riset untuk menguji kebenaran ide dasar di balik mantra “ikuti renjanamu”. Selama beberapa tahun, ia memawawancari banyak orang yang dikenal mencapai keberhasilan dalam bidangnya. Ia juga meninjau ulang berbagai hasil penelitian dalam bidang kepuasan dan motivasi kerja.

Newport menemukan penelitian yang menunjukkan hanya sedikit sekali orang yang merasa memiliki renjana yang sudah ada sejak dulu.  Sebaliknya, berbagai studi  menunjukkan, mereka yang merasa sangat antusias bekerja  justru adalah mereka yang sudah menggeluti bidang itu dalam waktu yang cukup lama.

Newport juga membaca biografi Steve Jobs dengan seksama. Terlepas apa yang disabdakan Jobs dalam pidato di Stanford, ternyata ia dan Steve Wozniak mendirikan Apple demi mencari uang lewat membuat komponen komputer. Saat itu, renjana Jobs adalah mistisisme Timur, dan ia harus membayar biaya kursus di Los Altos Zen Center. Ironis, bukan?

Jelas bahwa renjana bukanlah prasyarat. Sebaliknya, Newport menemukan bahwa renjana adalah sebuah konsekuensi alias efek samping. Efek samping ini  muncul saat kita membangun keterampilan yang  langka dan berharga di bidang kita.

Dalam setiap bidang, selalu ada karakteristik yang mendefinisikan karya yang bermutu tinggi. Karakteristik itu adalah hasil dari keterampilan yang langka, sehingga orang mau membayarnya dengan harga tinggi. Inilah keterampilan yang harus kita bangun.

Untuk mendapatkan keterampilan itu, kita harus membayarnya dengan ketekunan dan kerja keras. Kita harus sering mencoba dengan sungguh-sungguh, dan mendapat umpan balik yang jujur dan jelas dari mereka yang dalam bidang itu.

Sikap inilah yang oleh Newport disebut sebagai mentalitas pengrajin (“craftman mindset“). Orang yang mengadopsi mentalitas pengrajin selalu berpikir tentang bagaimana mereka bisa menjadi lebih baik dalam bidangnya sehingga mereka bisa memberi nilai lebih.

Newport membandingkan mentalitas pengrajin dengan mentalitas renjana (“passion mindset“). Disadari atau tidak, orang yang hidup dalam mentalitas renjana sering mempertanyakan apa yang ditawarkan dunia buat mereka —seakan-akan dunia punya kewajiban membuka bidang pekerjaan yang sesuai dengan renjana mereka. Saat berhadapan dengan kesulitan dalam pekerjaan, mereka akan bertanya, “Apakah pekerjaan ini sudah sesuai dengan renjana saya? Adakah pekerjaan lain yang lebih cocok untuk renjana saya?”

***

Mengadopsi mentalitas pengrajin dan membangun keterampilan yang langka dan berharga bisa membuat kita menjadi berhasil dalam pekerjaan kita. Namun akankah ini akan membuat kita mencintai pekerjaan kita, dan mendapatkan kepuasan dari situ?

Newport merangkum berbagai studi yang menunjukkan bahwa atribut yang membuat orang mencintai dan mendapatkan kepuasan dalam pekerjaannya bersifat universal. Maksudnya, atribut ini bisa ditemui dalam semua bidang pekerjaan, bukan hanya dalam area tertentu. Atribut-atribut itu adalah

  • Kita merasa mempunyai otonomi dalam bekerja; kita bisa mengendalikan bagaimana kita bekerja (“sense of autonomy“)
  • Kita merasa cakap dalam melakukan apa yang kita kerjakan, dan bisa terus meningkatkan kecakapan tersebut (“sense of mastery“)
  • Kita merasa bahwa pekerjaan kita memberi pengaruh atau berkontribusi pada dunia atau ummat manusia (“sense of purpose“).

Jelas bahwa mentalitas pengrajin dan membangun keterampilan yang berharga akan mengantar kita pada “sense of mastery“. Selain itu, keterampilan yang berharga bisa kita jadikan modal untuk mendapatkan otonomi dalam pekerjaan kita. Kita akan memiliki posisi tawar yang lebih bagus dalam memilih proyek yang kita sukai dan menentukan gaya atau cara kita bekerja.

Bagaimana dengan “sense of purpose“? Semakin kita menguasai bidang kita, semakin mudah buat kita untuk melihat bagaimana kerja kita dapat berkontribusi pada dunia. Semakin kita menguasai bidang kita, semakin mudah buat kita untuk melihat “the big picture“. Kita semakin punya waktu dan kemampuan untuk pergerakan terakhir di dalamnya. Di sinilah kita bisa melihat lebih banyak peluang melakukan terobosan dalam area lain yang bersinggungan dengan bidang kita.

Sebagai contoh, di tangan Steve Jobs komputer tidak lagi adalah sekedar alat kantor untuk meningkatkan produktivitas. Jobs menjadikan komputer sebagai alat yang tidak saja bernilai estetis, tapi juga memberikan pengalaman estetis saat digunakan. Saya cukup yakin, Jobs bisa melihat kemungkinan ini dengan lebih nyata pada saat ia sudah cukup menguasai teknologi dasar hardware dan software.

***

Lalu apakah saran untuk mengganti “ikuti renjanamu”? Newport sebetulnya enggan untuk memberi saran singkat berbau slogan, namun ia sadar ia hidup di jaman 140 karakter. Menurut Newport,

Passion is not something you follow. It’s something that will follow you as you put in the hard work to become valuable to the world.

Don’t follow your passion, let it follow you in your quest to become useful to the world.

Jadi janganlah mengikuti renjana kita. Jadikan renjana sebagai sesuatu yang mengikuti kita pada saat kita berjuang membangun keterampilan yang berharga, untuk menjadi lebih berguna buat dunia.

Untuk mendengar langsung dari mulut Cal Newport, silakan saksikan video saat ia menjadi pembicara di 99U Conference, tahun lalu  (waktu putar 22 menit):

Buku oleh Cal Newport
So Good They Can’t Ignore You: Why Skills Trump Passion in the Quest for Work You Love

Artikel oleh Cal Newport
Follow a Career Passion? Let It Follow You
Why ‘Follow Your Passion’ Is Bizarre Advice

Wawancara dengan Cal Newport
Cal Newport on how you can be an expert and why you should *not* follow your passion
‘Follow Your Passion’ Is Crappy Advice
7 Steps to Developing Career Capital – And Achieving Success

Standard

67 thoughts on “Mengapa “follow your passion” adalah saran yang menyesatkan

  1. diajuvamp says:

    Ntah knp saya selalu berpikir ttg pidato steve jobs itu bukanlah follow your passion, tapi ini;
    ” The only way to do a great job is to love what you do, if you haven’t found it yet, keep looking (the way or reason to love what you do)”

    Jadi menurut saya kita harus menyukai apa yg kita kerjakan dan kl belum ketemu ya harus mencari cara atau alasan utk menyukai apa yg sedang kita kerjakan skrg, bukan mencari apa yg kita suka utk kita lakukan (to do what you love or what they call the “passion”)..

    Tp mgkn byk yg berpikir saya salah sih, soalnya saya bukan pembaca pikiran dan saya lupa nanya ke Jobs kmrn itu 😉

    • bebekmanyun says:

      setuju banget.. saya rasa diajuvamp sudah mengerti artikel ini, kok.. “love what you do” berbeda dengan “do what you love”.. “follow your passion” lebih cenderung mengarah ke “do what you love”.

    • bukansiapasiapa says:

      saya cuma ingin menawarkan perspekfif lain http://news.stanford.edu/news/2005/june15/jobs-061505.html
      full speechnya
      steve jobs passionnya kalau saya tidak keliru ada to make great product and build great company seperti pixar dan apple. passion ini dia sadari saat bertemu dengan salah satu orang di atari yang pernah membangun perusahaan(bila saya tidak keliru)

      mengenai ‘mistisme’ timurnya itu karena dia dia ada tekanan batin, karena merasa dibuang dari bayi, sampai harus terapi teriakan, dan kalaupun itu salahsatu passionnya saya rasa dia melakukannya hingga akhir hayatnya, vegan garis keras.

      dan dia tidak mau melekat pada uang atau pun kekayaan, dalam buku walter isaacson, makanya dia sering bilang the journey is the reward, bukan karena dia tidak butuh uang atau tidak menggunakannya dia cuma hidup sesuai kebutuhan dia dan itu dia pelajari dan diterapin ke anak-anaknya dan cara hidup dia simplicity, design product dia.

      motivator dan life couch emang kadang hanya berkata mutiara saja hanya berucap tidak bertindak, lain dengan steve jobs walaupun dia dianggap ahli ‘reality distortion field’.(yang saya rasa orang tidak mengerti apa visi dia dan maksud dia saja waktu itu) karena banyak orang yang telah dia yakini bahwa yang sebelumnya tidak mungkin tapi akhirnya terwujud.

      http://www.forbes.com/sites/robasghar/2013/04/12/five-reasons-to-ignore-the-advice-to-do-what-you-love/2/

      mohon juga baca perspektif ini mengenai you need your full hedgehog

      http://agilelifestyle.net/finding-your-passion-cal-newport

  2. Sharon says:

    I wholeheartedly agree with Cal Newport. Terkadang ada perasaan yang begitu kuat mengatakan bahwa ‘ini bukan yang sebenarnya kamu mau’. Bagaimana menghadapi para remaja yang begitu kuat tekadnya untuk masuk jurusan tertentu karena mereka yakin kalau itu adalah renjananya? Jurusan-jurusan tersebut dikategorikan sebagai yang tidak populer (dan orang tua tidak setuju). Mohon pendapat mbak Paramita. Thanks.

    • Ada beberapa hal yang membuat saya cenderung membiarkan remaja yang memilih jurusan sesuai renjananya.

      Pertama, menurut saya tidak ada seorang pun yang bisa mengatakan ke orang lain, “Ini bukan yang sebenarnya kamu mau.” Jadi kalau Anda adalah orang yang berperan memberi saran tentang jurusan, saya rasa lebih baik jika advis yang Anda berikan dibungkus dalam pertanyaan, “Inikah bidang yang kamu cukup tertarik, untuk terus bisa kerja keras membangun pengetahuan dan keterampilan berharga?”,

      Kedua, saya ragu apakah jurusan saat kuliah punya peranan sangat besar dalam mudah tidaknya mendapat pekerjaan, kesuksesan kerja, atau kepuasan kerja.

      Ketiga, saya cenderung membiarkan orang lain mengambil keputusan buat hidupnya sendiri. Yang paling penting adalah membuat kondisi yang mendukung, sehingga jika ia merasa mengambil keputusan yang salah, ia masih bisa mengambil langkah koreksi.

      Semoga jawaban saya berguna.

  3. Pingback: Mengapa “follow your passion” adalah saran yang menyesatkan | f * w o r L d

  4. prastography says:

    Sangat tajam dan masuk akal tulisannya. Membuka cakrawala pikiran saya, yang awalnya memang menyetujui “Passion mindset” tapi sekarang saya tau ada hala lain selain itu, yaitu “Craftman Mindset”. Dan yang paling saya setujui adalah biarkan passion yang mengikuti kita dalam apa yg sedang kita kerjakan (pekerjaan kita), maka itu akan menjadi nilai lebih dalam kehidupan kita. Justru bila kita mengambil pekerjaan sesuai passion kita, maka ketika kita menghadapi hambatan dalam pekerjaan dan stres, kita akan balik bertanya, “apa memang ini passion saya?”.
    Disitulah kita akan merasa heran dan merenung kembali.
    Tapi semua kembali ke individu dan hak dalam setiap pengambilan keputusan.
    Just choose your side!

  5. zahra says:

    menurut saya, craftman mindset membuat manusia menjadi terkesan nrimo, tetapi kreatif. nrimo dalam artian, manusia tsb menerima apa adanya yg ada di depan matanya dan berusaha sekreatif mungkin untuk mencari sisi positif dalam menjalani hal tersebut sehingga dia menemukan renjana.
    apakah sebenarnya manusia itu diciptakan utk nrimo dan berfikir kreatif dalam pilihannya yg (mungkin) bukan sebenarnya dia inginkan (desire)?
    menurut saya, mungkin craftman mindset itu bisa jadi hal positif bagi org2 yang merasa salah memilih jalannya (misal,jurusan kuliah/pekerjaan).
    tetapi bagi mereka yang baru dihadapkan pilihan, sebaiknya tetap pada passion mindset, dengan craftman mindset sebagai backingannya apabila passion tsb tiba2 menghilang dsbnya. tetapi menghilangnya passion tsb pun bisa didasari oleh kelabilan manusia (bisa pengaruh faktor luar yg menyebabkan manusia tsb merasa dirinya kehilangan passion atas hal tertentu).
    intinya, menurut saya, craftman mindset itu merupakan sebuah solusi untuk mereka yg salah menafsirkan renjana mereka dalam tahap pembentukan passion mindset mereka sebelumnya yg telah ditumpahkan pada suatu pilihan yg pada akhirnya mereka rasa tidak mengandung renjana lagi.

  6. Fab says:

    IMHO
    Kata2 sesat terlalu hiperbola menurut gue. Kalo gue bilang kata2 “Follow your passion adalah saran yang menyesatkan” kemudian banyak anak muda yang jadi gemar mencari uang dibanding melakukan hal yang dia inginkan. Gimana? Apa gak sesat?
    Balik lagi semuanya jangan digeneralisir. Semua bermula dari passion, dan literally passion gak bisa langsung diterjemahkan menjadi rencana. Apa hobi itu rencana? Apa kesenangan melakukan sesuatu itu rencana? Itu passion.
    Steve jobs tidak menguasai hardware dan software, makanya dia menggandeng steve wozniak. Apple jadi kayak sekarang karena passion steve di bidang art, calligraphy dan design. Kalo cuma masalah software dan hardware, dia cuma akan membangun another dell dan another microsoft ataupun IBM.
    Setuju bahwa orang harus tekun menjalankan apa yang sedang dia kerjakan, tapi gimana orang tekun kalo misal ga hepi sama pekerjaannya?
    Gue kerja di bidang yang sangat gue passion, tapi tanpa ketekunan gak akan dapet posisi yang diinginkan. Cuma ketika kita menggeneralisir bahwa “mengikuti passion adalah sesat” semua orang akan kerja di MLM dan cari uang. Apakabar seniman yang mengikuti passion mereka dan hidup super happy?
    Gue sangat setuju kalo artikel ini ngmg tentang tekun, apa artinya mengikuti passion tanpa ketekunan, apa artinya ketekunan tanpa passion? Gak ada yang salah, cuma perlu di balance. Banyak orang sekarang yang ganti2 kerjaan dengan alasan gak passion, ternyata setelah mereka cerita, karena simply gak ada uangnya. Padahal banyak orang yang mengikuti passion nya dan jadi bilyuner. Tanpa passion gak akan ada Facebook, twitter, google, apple. Cuma dengan passion dan ketekunan terjadilah itu semua.
    Jadi mengikuti passion sesat? Gak juga.. Dan kata – kata “menyesatkan” terlalu harsh menurut gue.
    CMIIW
    just giving my two cents here.
    Anyway, kalo ngmg mengikuti passion itu sesat, oksimoron banget sama Holstee Manifesto yang nongol di awal artikel yang dimana itu adalah “Passion” and simply live your life..

    • Tidak ada yang salah kalau banyak orang jadi senang mencari uang, selama halal dan kalau cukup, bayar pajak.

      Ada banyak orang di dunia bekerja keras di bidang yang tidak sama dengan renjananya, untuk membeli makanan buat keluarga, untuk menyekolahkan anak, untuk membantu orang tua yang kurang mampu. Dan mereka menemukan makna di balik perjuangan mereka, sehingga mereka bahagia.

      Anda bilang banyak orang yang mengikuti passion-nya menjadi bilyuner. Tapi banyak juga orang yang membangun keterampilan (dan baru punya renjana belakangan) yang sukses jadi bilyuner. Kesimpulannya, renjana bukan syarat esensial buat kaya. Ataupun bahagia dalam pekerjaan.

      Soal Holstee Manifesto: saya sengaja pasang, dengan asumsi bahwa pembaca blog saya akan paham ironi. Saya jadi berpikir mungkin asumsi ini salah.

  7. Hello Mita yang baik,

    Apa kabar? Long time no see – terakhir di rumah Mbak Elaa kalau tidak salah.
    Seru juga banyak yang nyolek saya di twitter dan minta supaya mengomentari tulisan Mita. Terima kasih sudah mengangkat obrolan soal passion ini sejak buku Cal Newport terbit beberapa waktu lalu. Sekedar melengkapi dialog kita, izinkan saya posting tulisan yang pernah ditayangkan di kolom #UltimateU Kompas tanggal 29 Sep 2012. Mudah2an jadi lebih lengkap pemahaman kita dan para pembaca mengenai passion, atau dalam bahasamu, renjana.

    Dalam beberapa hal, tampaknya Mita dan saya sepakat sbb:
    – Passion tanpa karya = percuma.
    – What pays your bills is money, not passion.
    – Satu2nya motivator buat kita ya diri sendiri 😉

    Dialektika ini juga jadi memperkaya pemahaman saya sendiri tentang passion. Saat ini saya paling nyaman mendefinisikannya sbb: “Passion terletak pada segala aktivitas yang membuat diri merasa berdaya” – elaborasinya bakal muncul dalam buku berikut Passion2Performance. Saya pastikan Mita akan menerima 1 copy 🙂

    All izz well.

    ————————

    #UltimateU 65: 29 Sep 2012
    Yes, You Know The Truth About Your Passion.

    Seminggu ini saya memperoleh beberapa pesan twitter yang minta agar saya berkomentar atas sebuah buku baru yang dibuat oleh seseorang nun jauh di Amerika Serikat – apalagi, kalau bukan mengenai passion. Cal Newport, penulisnya menyebut anjuran “follow your passion” sebagai ajakan kebablasan yang tidak lagi sesuai dengan perkembangan zaman. Waduh! Sekilas terkesan sangat bertentangan dengan hal-hal yang yakini dan sudah komunikasikan sejak lama. Tapi saya justru sangat tertarik dan tertantang untuk mempelajari lebih jauh sudut pandang lain ini – siapa tahu bisa memperkaya pemahaman mengenai passion & diri sendiri. Berhubung buku Cal belum beredar di Indonesia, saya hanya bisa mengintip dari tulisan-tulisan online yang tersedia.

    Sekarang saya mengerti bahwa Cal lebih mempermasalahkan kata “follow” daripada “passion”. Melalui argumen logis dia menyebutkan proses mengenali passion seringkali perlu waktu panjang dan seringkali, membingungkan. Proses pencarian passion tidak dapat dengan serta merta dituntaskan sebelum mendapatkan pekerjaan yang sejalan dengan passion tersebut. Dia juga menyebutkan bahaya yang muncul saat “mencari passion” dijadikan alasan untuk menunda bekerja, berkarya, atau lebih buruk lagi, menjadi tanggungan orang lain. Terkait hal ini Cal memberi rujukan menarik tentang sebuah statistik yang sangat mengganggu terutama bagi Cal sendiri: Saat ini di Amerika Serikat, 1/3 dari pemuda-pemudi usia 25 – 34 tahun hidup bersama orang tua mereka. Sebuah kondisi yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sebuah negara yang terkenal dengan kultur individualtis. Saya jadi terusik untuk mencari tahu statistik serupa di Indonesia.

    Passion is in the activities, NOT jobs. Mungkin Cal punya definisi tersendiri mengenai passion dan saya juga tidak perlu mempermasalahkannya. Bagi saya passion tidak terletak pada profesi atau pekerjaan tertentu. Passion justru terletak pada aktivitas spesifik yang membuat diri kita merasa kuat setiap kali melakukannya. Apa beda profesi dan aktivitas? Sebuah profesi atau pekerjaan pasti berisi serangkaian aktivitas didalamnya. Sebut saja seorang bankir pasti melakukan beragam aktivitas mulai dari mencari nasabah, menganalisa kredit, mempresentasikan hasil kajian resiko dan lain lain. Semakin besar prosentase aktivitas yang merupakan passion maka semakin besar peluang kita berkiprah keren disana.

    Passion is a state of being – Ambition is an act of becoming. Bagi saya passion juga tidak sama dengan keinginan atau cita-cita. Teramat aneh setiap kali mendengar seseorang yang mengaku passion-nya jadi entrepreneur tapi belum tahu mau menjalani bisnis apa.

    Passion is God greatest gift to all mankind. Passion tidak untuk diangankan karena sudah ada dalam diri setiap orang. Passion juga tidak untuk dianalisa secara berlebihan, apalagi sampai harus menggunakan instrumen yang harus dibeli dengan mahal. Passion dengan mudah bisa dikenali asalkan kita terlatih untuk jujur terhadap apa yang dirasakan, punya keberanian untuk mencoba, bertanya, berdialog dst serta memiliki kepedulian. Masih bingung? Jangan jaim dan terus belajar jadi diri sendiri yang terbaik.

    Mengikuti arah kehidupan dengan menggunakan passion yang sudah ada dalam diri sendiri adalah hal paling alamiah yang bisa dilakukan seseorang. Sekali lagi mencari passion bukan pada jenis pekerjaan yang tersedia di pasar atau uang berlimpah atau ketenaran. Mencari passion adalah perjalanan berkesinambungan memahami diri sendiri yang butuh kontemplasi, keheningan dan kesabaran. You are responsible for your own life by developing your passions. You are responsible to turn your passion into meaningful creation. Vincit qui se vincit.

    • Poin utama saya dalam tulisan ini:

      1. Renjana adalah konsekuensi, bukan prasyarat, bukan titik awal.
      2. Renjana bukan syarat perlu (necessary condition) ataupun syarat cukup (sufficient condition) untuk bahagia ataupun berhasil dalam bekerja.

      Minggu depan saya akan mengelaborasi lebih lanjut poin berikutnya:
      3. Yang “melumas” perjalanan kita dalam membangun keterampilan berharga adalah minat (interest) dan makna (meaning), bukan passion.

  8. Listyo says:

    Sudut pemikiran yang luar biasa menurut saya, dan siapapun motivator/ penulis atau apapun itu pasti akan memerlukan waktu yg sangat lama kalau hanya untuk bermain kata-kata. karena saya yakin dia lebih mementingkan hal yg membuatnya luar biasa dari pada belajar kamus bahasa???

  9. senna says:

    saya pribadi tetap setuju dengan follow your passion. kenapa steve jobs mencari uang (awalnya) dengan sesuatu yg berhubungan dengan komputer, kenapa dia engga bikin usaha properti kayak si trumps? apakah trumps tidak mencari uang dari properti? karena si jobs lebih menyukai komputer dan si trumps lebih menyukai properti, jadi. apa kesukaanmu, kecintaanmu, follow your passion.

  10. Terkadang,
    ini bukan passion saya, menjadi semacam alasan untuk menolak kerjaan. Sorry, mungkin ini subyektif. Tapi saya melihatnya begitu….. di sebuah tempat kerja.

  11. Pingback: Passion(s) || Renjana | kisah guru

  12. fajar says:

    nice idea…
    passion itu hal yang bikin kita selalu horny ! yap gada alasan untuk tidak melakukan itu !

    I’m Passionate but I’m Realistic.. jadi apapun passionnya semua balik ke tujuan hidup yaitu bahagia lahir dan batin

  13. krewella says:

    If everybody ends up following their passion to make a living, bakal susah nyari yg mau jd pembantu n tukang sedot wc

  14. bobbob says:

    alasan menolak pekerjaan karena tidak sesuai renjana adalah alasan yang tidak berdasar.

    menurut saya, sama seperti follow your passion yang tidak berlaku untuk semua orang. statement diatas juga tidak berlaku untuk semua orang.

    memang sedikit yg berhasil menemukan kebahagiaannya setelah meninggalkan pekerjaan yg tidak sesuai renjananya. tapi bukan berarti TIDAK ADA. memang banyak yang kekurangan secara ekonomi setelah mengikuti renjananya. tapi bukan berarti TIDAK ADA yang berhasil kaya secara ekonomi karena mengikuti renjananya.

    ini terjadi karena perbedaan setiap orang dalam mendefinisikan passion. menurut saya passion harus lah berhubungan dengan DIRI SENDIRI dan makhluk tuhan lainnya. yg tidak berubah karena masa (waktu). passion manusia pertama kira” apa ya?

    di jaman sekarang, passion dihubung hubungkan dengan uang (yang dibuat juga oleh manusia). karena itu kita tidak akan mendapatkan jawaban tentang passion selama kita masih menyangkutkan passion dengan barang yg dibuat oleh manusia. nama barangnya uang.

    saya merasa tuhan tidak adil bilamana passion dapat saya temukan setelah saya mendapat mobil mewah, rumah mewah dan lingkungan mewah. karena manusia pertama yang ada di muka bumi tidak punya itu semua. (ini pernyataan bahwa passion yg tidak dapat dilakukan manusia pertama bukanlah passion yg sebenarnya)

    maaf bila ada salah kata, semoga pertanyaan “apa passion manusia pertama di muka bumi?” menjadi tambahan hal yang bisa kita renungkan.

  15. katarina siena says:

    Terima kasih untuk tulisan ini. Jadi pandangan baru untuk saya pribadi. saya rasa pandangan “follow your passion” tidak tepat juga dianggap menyesatkan. namanya juga buah pemikiran. but now i thinking that i am agree with Cal Newport.
    Anyway, saya senang dengan temuan yang buat saya baru (atau, saya sudah pernah membacanya namun terlupa), yaitu mengenai tiga atribut Universal yang harusnya ada saat kita menjalani sebuah pekerjaan. yaitu :
    sense of autonomy, sense of mastery, dan sense of purpose. Jadi, tidak hanya dangkal memikirkan gaji besar (meski ini juga penting skali); namun benar-benar membuat kita merasa utuh dalam hidup dan berkarya. noted in my mind and heart.

  16. jarwadi says:

    selama ini, sebelum mengenal kata renjana, saya lebih menafsirkan passion sebagai sesuatu yang sangat ingin kita lakukan 🙂

  17. Passion menurut yang saya pahami selama ini : Sesuatu yang kita kerjakan dengan senang hati, bahkan rela walaupun tidak dibayar sama sekali. Setuju kalau itu alamiah. Sudah ada di setiap diri seseorang, yang hadir beriringan dengan semua yang sudah dianugrahkan Tuhan pada kita yang masih bisa membahas dan menganalisis passion sekarang ini. advice “do what you love” tepat untuk mereka yg masih punya kebebasan memilih atau sedang dihadapkan pada banyak pilihan. Di luar sana banyak orang yang sudah tidak dapat memilih lagi kegiatan mereka dengan bebas. So love what you do. Kerjakan terus-menerus. Karena cinta bisa tercipta karena biasa (witing tresno jalaran saka kulina)

  18. Pingback: “Passion”: psikologi ilmiah vs. pendapat awam « >140 characters

  19. Pingback: Mengapa “follow your passion” adalah saran yang menyesatkan | La Vita e' Bella

  20. benar juga ya, tentang follow your passion
    bagaimana jika diganti
    cintailah pekerjaanmu
    karena menurut saya
    ” Cinta adalah sebuah strategi. Dimana dengan cinta kita dapat mencapai sebuah tujuan yang kita impikan dengan baik, Karena akan diliputi rasa sayang dan tulus dalam proses pencapain impian kita ”
    jadi lakukanlah apa yang anda impikan dengan cinta…:)

  21. Pingback: Renjana Ganis Blog

  22. Baca artikel ini + komentar mas rene, bikin kening saya mendadak sedikit berkerut. Tapi seru sih, pikiran saya malah tiba melayang pada perang antar operator seluler yang hasilnya menguntungkan buat banyak org.LOL

  23. rey says:

    ‎Your work is going to fill a large part of your life, and the only way to be truly satisfied is to do what you believe is great work. And the only way to do great work is to love what you do…If you haven’t found it yet, keep looking.
    Don’t settle. As with all matters of the heart, you’ll know when you find it. And, like any great relationship, it just gets better and better as the years roll on.

    -steve jobs-

  24. Coki Singgih says:

    Kata2 Steve Jobs hanya menyebutkan “if you have not found your passion yet, keep looking”, jadi sifatnya bisa pencarian internal/eksternal. Kalo eksternal, nyambung sama argumen/kutipan lo bahwa passion adalah hasil pilihan sebuah proses pencarian, yg mana gw sepakat.

    Lalu kesimpulan passion itu sudah menanti di dalam diri kita itu dari mana Mit? Curious.

    Btw gak suka sama kata renjana sama kayak dulu gak suka kata semenjana, katanya berasa canggung dan kaku aja, gak cair hehe

    • Kesimpulan passion udah ada dari lahir, tinggal diwujudkan itu kayaknya hasil salah kaprah, atau bahan jualan motivator kayaknya.

      Soal renjana, sebagaimana banyak hal, itu tinggal tunggu jadi biasa sih…

  25. Pingback: Follow passion? Craftman Mindset? | Bismillah.. keep learning and thinking straight

  26. Pingback: Pentingkah Mengejar Passion? | A. Nuril Afwan

  27. cahayanu says:

    Pertama, sangat senang penulis artikel mengupayakan penggunaan bahasa Indonesia yang memang perlu didorong lebih jauh agar kita makin kaya kata dan wacana. Terima kasih telah mengajukan lema renjana ini. Semoga akan lebih meluas. Jadi teringat Kla Project sempat membuat lagu Saujana yang Katon bilang itu artinya serupa dengan ‘visi’. Sayang tidak bergema.

    Kedua, ini memang rasanya perihal yang sangat dapat diperdebatkan dan saya kira wajar, karena berkenaan juga dengan istilah yang kita sendiri sering dengar namun tak persis tahu apa artinya.

    Yang ketiga, saya melihat bahwa pemikiran Cal diulas Mbak Mita adalah sudut pandang yang lebih realistis. Saya menduga (salah satu) akarnya bisa jadi keresahan Cal terhadap statistik usia pengangguran tadi. Nah menarik bagi saya karena usia yang disebut adalah generasi Y, generasi yang sangat mengadopsi adagium ikuti renjanamu ini. Meski penggolongan generasi ini juga seringkali terlalu longgar, tapi dalam beberapa hal masih relevan. Saya sendiri adalah generasi Y awal, dan sempat terjebak mantra ikuti renjanamu ini. Belakangan saya mendapati sudut pandang lain, bahwa dedikasi lebih utama dibanding renjana dalam bekerja. Apakah renjana saya mati? Tidak. Trik saya adalah tetap menjaga renjana tersebut, namun bukan dalam jalur profesi. Ternyata itu lebih menyenangkan, karena lepas dari obligasi tertentu.

    Maaf ya kalau kepanjangan komentar saya. Oiya, saya pas lihat gambar awal langsung ngeh kalau itu kontradiksi yang disengaja, Mbak. Terima kasih atas tulisannya ya : )

  28. Ah, I see. Saya paham maksud tulisan Mita bahwa passion atau renjana sebenarnya bukan satu-satunya hal yang patut diagung-agungkan seperti yang selalu didengungkan beberapa tahun belakangan ini dalam berbagai seminar atau talkshow.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s