life in general

“Passion”: psikologi ilmiah vs. pendapat awam

stivers-2-10-03-pavlovs-dogs-1

Diambil dari Internet. Sumber asli sayangnya tidak terindentifikasi.

Dua minggu yang lalu saya menulis tentang menyesatkannya saran “follow your passion” (ikuti renjanamu) untuk bekerja. Saya terkejut melihat betapa besar tanggapan yang muncul, walau sudah menduga banyak yang tidak setuju dengan pandangan ini.

Reaksi hangat ini mengingatkan saya, kepuasan dan kebahagiaan kerja adalah topik yang punya muatan emosional buat banyak orang. Sebagian dari kita menghabiskan berjam-jam hanya untuk sampai ke tempat kerja —belum untuk bekerjanya sendiri. Ada juga yang menghabiskan waktu lebih banyak untuk kerja daripada tidur.

Menghitung waktu yang begitu banyak kita habiskan untuk kerja, wajar jika kita tidak ingin bekerja dengan sengsara. Nampaknya saran “ikuti renjanamu” diajukan sebagai salah satu resep untuk memerangi derita dalam kerja. Opini yang mengajukan renjana sebagai titik awal atau prasyarat kepuasan dan pencapaian kerja memang terdengar masuk akal, gampang dimengerti, dan emosional, sehingga menjadi populer.

Kalau mau berpikir kritis, konsep renjana adalah bagian dari apa yang saya sebut “folk psychology“. Folk psychology adalah cara orang awam menjelaskan penyebab masalah yang berkaitan dengan tingkah polah manusia, termasuk juga penyembuhannya.

Supaya gampang, saya akan membandingkan folk psychology dengan folk medicine. Folk medicine adalah cara orang awam menjelaskan penyebab gangguan fungsi tubuh. Masuk angin (yang keberadaannya tidak punya bukti ilmiah dalam aliran utama ilmu kedokteran) adalah contoh pembahasan folk medicine. Jika folk medicine punya masuk angin, maka folk psychology punya renjana.

(Selain renjana, folk psychology juga percaya hubungan yang kurang harmonis dalam keluarga akan mengakibatkan anak terlibat tawuran, narkotika, seks bebas, menjadi homoseks, dan sebagainya. Tapi biarlah ini menjadi topik untuk artikel di lain waktu.)

Folk psychology perlu dibandingkan dengan “scientific psychology“. Kata “scientific” digunakan untuk menegaskan bahwa penjelasan yang didapat dalam psikologi tipe ini selalu berdasarkan langkah-langkah sesuai metode ilmiah.

Renjana relatif baru jadi topik penelitian psikologi ilmiah, yakni semenjak awal 2000-an. Pelopor penelitian yang berkaitan renjana adalah Robert Vallerand. Menurut Vallerand (tentunya berdasarkan banyak penelitian yang berlangsung bertahun-tahun), dalam hidup kita harus melakukan berbagai kegiatan. Setelah melalui periode uji coba, akhirnya kita akan menemukan sejumlah kegiatan yang kita lebih kita sukai daripada yang lain, yang kita anggap penting dalam hidup, dan yang menjadi bahan untuk mendefinisikan siapa kita. Kegiatan-kegiatan inilah yang oleh Vallerand disebut sebagai “passionate activities” (kegiatan berenjana). Jadi renjana adalah dorongan besar yang ada dalam diri seseorang untuk melakukan kegiatan-kegiatan semacam ini.

Jelas bahwa dalam psikologi ilmiah, renjana adalah sebuah konsekuensi setelah kita menemukan kegiatan yang sangat kita suka. Renjana bukanlah sesuatu yang “sudah ada dari sananya” dalam diri kita, sebagaimana yang diklaim oleh folk psychology.

Vallerand juga menyusun instrumen untuk mengukur seberapa besar renjana kita dalam sebuah aktivitas tertentu. Sekali lagi, di sinilah bedanya psikologi ilmiah dengan folk psychology. Penggiat kultus renjana menolak “menganalisis renjana secara berlebihan, apalagi sampai harus menggunakan instrumen pengukuran”, karena “renjana dengan mudah bisa dikenali” (lihat komentar ini). Padahal, jika renjana tidak diukur atau dikuantifikasikan,  bagaimana kita bisa menguji hipotesis tentang renjana sebagai prasyarat kepuasan kerja?

Menurut Vallerand, ada proses internalisasi ketika kita menjadikan kegiatan berenjana sebagai bagian dari identitas kita. Bagaimana berlangsungnya proses internalisasi ini akan menentukan jenis renjana seperti apa yang kita punya.

Renjana harmonis (“harmonious passion“) akan muncul jika proses internalisasi ini berlangsung secara otonom dan tanpa tekanan sosial. Sebaliknya, renjana obsesif (“obsessive passion“) akan muncul jika proses internalisasi ini berlangsung di bawah kontrol pihak lain dalam bentuk tekanan sosial, yang menyebabkan munculnya dorongan untuk mendapatkan penerimaan sosial atau harga diri.

Orang yang mempunyai renjana obsesif sulit menahan dorongan untuk terus melakukan kegiatan berenjananya. Mereka tidak bisa menyeimbangkan kegiatan itu dengan aspek lain dari kehidupannya. Seakan-akan renjanalah yang mengatur kehidupan mereka, bukan sebaliknya.

Orang yang mempunyai renjana harmonis menunjukkan perilaku yang berbeda. Mereka tidak dikendalikan oleh renjananya. Mereka fleksibel, dalam arti bisa menentukan kapan dan di mana mereka akan melakukan kegiatan berenjananya. Mereka bisa mendapatkan perasaan positif selama dan sesudah mengerjakan kegiatan mereka.

Vallerand dan peneliti lain menemukan bahwa renjana harmonis berkorelasi positif dengan kesehatan mental, kesejahteraan psikologis (“subjective well-being“), dan kepuasan hidup.

Selain itu, renjana harmonis berkorelasi positif dengan kepuasan kerja, dan berkorelasi negatif dengan munculnya konflik antara kehidupan pribadi dan pekerjaan. Mereka yang mempunyai renjana harmonis dalam bidang kerjanya merasa lebih bisa berkonsentrasi dalam kerja, memegang kendali, mendapatkan kesenangan (“fun“) dalam kerja,  dan punya ikatan emosional lebih dalam dengan organisasi tempat kerja.

Sebaliknya, mereka yang mempunyai renjana obsesif dengan bidang kerjanya lebih sering mengalami stres, membawa pekerjaan ke rumah, memikirkan tentang kerja di luar jam kerja, dan tetap bekerja selama liburan. Renjana obsesif juga bisa memprediksi munculnya konflik antara kehidupan pribadi dan pekerjaan, dan terjadinya “burnout” (patah semangat disertai kelelahan mental luar biasa).

Penelitian-penelitian ini memberi kesan bahwa renjana harmonis adalah kunci pamungkas dari pemenuhan diri di dunia kerja. Betulkah begitu?

Belum tentu. Metode ilmiah memang seringkali tidak menghasilkan kesimpulan yang gamblang dan penuh kepastian.

Semua penelitian yang saya ringkas di atas menggunakan metode korelasi, dan dari sini kita tidak bisa menyimpulkan apapun tentang hubungan sebab akibat. Selain itu, studi ini belum luas direplikasi di berbagai bidang pekerjaan dan kultur yang berbeda-beda.

Yang paling penting, “celah” terbesar dari penelitian-penelitian ini adalah, renjana tidak langsung mempengaruhi kesejahteraan psikologis di tempat kerja. Renjana mempengaruhi sejauh mana seseorang memperoleh makna dari pekerjaannya. Makna akan didapat jika melalui kerja, ia bisa memenuhi kebutuhan akan otonomi, kompetensi, dan keterhubungan dengan orang lain. Berikutnya, terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan itulah yang mempengaruhi tingkat stres, kesejahteraan psikologis, konsentrasi, memegang kendali dalam pekerjaan, dan keterikatan emosional dengan organisasi kerja.

Artinya, ada faktor selain renjana yang lebih langsung pengaruhnya dalam menentukan apakah kita akan mengalami kesejahteraan psikologis dalam bekerja, menemukan kesenangan dari pekerjaan, dan terlibat mendalam dengan tempat kerja. Faktor itu adalah seberapa jauh kita memperoleh makna dalam pekerjaan kita.

Singkat kata, apa bedanya pembahasan renjana menurut psikologi ilmiah dan folk psychology?

  • Menurut folk psychology renjana sudah ada “dari sananya” dalam diri kita, sementara dalam psikologi yang mengikuti kaidah ilmiah renjana adalah konsekuensi saat kita menemukan kegiatan yang memiliki karakteristik tertentu.
  • Folk psychology tidak menganggap perlu untuk mengukur renjana, sementara dalam psikologi ilmiah instrumen pengukur renjana adalah langkah awal yang mutlak diperlukan untuk mempelajari konsep ini lebih mendalam
  • Folk psychology memposisikan renjana sebagai prasyarat untuk meraih pemenuhan diri dan pencapaian dalam kerja, sementara dalam psikologi ilmiah ada faktor lain yang lebih langsung pengaruhnya yang menentukan pemenuhan diri dan kesejahteraan psikologis dalam kerja. Faktor itu adalah pekerjaan yang bermakna.

Salahkah mereka yang memilih untuk percaya folk psychology daripada psikologi ilmiah? Saya percaya tiap orang bebas berpendapat, walau kita perlu ingat bahwa folk psychology dulu pernah dipakai sebagai pembenaran perbudakan manusia dan genosida.

Dalam konteks ini, bagi saya masalah yang lebih krusial adalah jika ada orang yang justru semakin tidak bahagia karena mengikuti saran untuk mengikuti renjana.

Untuk artikel selanjutnya, saya akan menjelaskan lebih lanjut tentang mengapa mencari makna di balik kerja adalah saran yang jauh lebih berguna dibandingkan mengikuti renjana.

Kepustakaan:

Forest, J., Mageau, G.A., Sarrazin, C., Morin, E.M., “‘Work Is My Passion’: The Different Affective, Behavioural, and Cognitive Consequences of Harmonious and Obsessive Passion toward Work”, Canadian Journal of Administrative Sciences, 2010, Vol. 28

Vallerand, R.J.  “On the Psychology of Passion: In Search of What Makes People’s Lives Most Worth Living”  Canadian Psychology, 2008, Vol. 49

Vallerand, R.J. “The Role of Passion on Sustainable Well-Being” Psychology of Well-Being: Theory, Research, and Practice, 2012

Vallerand, R.J., Paquet, Y., Philippe, F.L., Charest, J., “On the Role of Passion in Work Burnout: A Process Model”, Journal of Personality, 2010, Vol. 78

Standard

10 thoughts on ““Passion”: psikologi ilmiah vs. pendapat awam

  1. thanks for sharing, Mit. pengalamanku bekerja menunjukkan bahwa kerja yang sesuai passion belum tentu bikin happy. skrg gw kerja di perusahaan di area yg sama dgn tempat kerja sebelumnya: di area people development. di tempat lama gw happy bgt sama kerjaan gw. sekarang bete minta ampun. kenapa? soalnya bosses yang nentuin apa yang bakal dikerjain (no sense of autonomy), kerjaan dikit banget atau gampang banget jd kurang kesempatan utk meningkatkan ketrampilan (lack of sense of mastery), dan berhubung program biasanya adhoc alias gak ada kerangka tujuan yg jelas jadi berasa gak ada sense of purpose. in short, menurut gw passion gak menjamin happiness in workplace. i feel happy if i can find meaning from my work.

  2. good read. That “the job doesn’t love you back” issue. Penasaran dengan kelanjutannya. sebagai korban renjana obsesif bertahun-tahun, yang lebih sering saya alami itu orang menyarankan agar mencari makna di luar kerja (e.g rumah tangga, anak, agama/spiritual quest, etc), bukan di balik/di dalam pekerjaan itu sendiri. So when is part 2 coming?

  3. jauh lebih bermakna dan berhati-hati dibanding artikel sebelumnya. saya menjadi sadar bahwa saya penganut harmonious passion. passion yang utama menurut saya adalah “pencarian makna terkait pertanyaan ‘apa itu hidup?’ “. semua manusia yang berakal di muka bumi pastilah akan mempertanyakan ini cepat atau lambat. passion ini bisa dipukul rata. semua memilikinya. jadi saya menganggap hal ini lah yang terpenting. adil bagi semuanya. bahkan penulisan artikel ini pun merupakan bagian kecil dari penjabaran akan hidup.

    jadi kesimpulannya, menurut saya bekerja tidaklah mungkin menjadi passion. rasa nyaman yang kita dapatkan dari bekerja tak dapat diartikan sebagai passion. pengertian mendalam mengenai bekerja pun bukanlah passion. rasa nyaman, aman dan tenang itu bukanlah passion. itu perasaan bahagia yang didapat dari bersyukur.

  4. davidirianto123 says:

    Halo Mbak Mita, saya setuju sekali kalau kebahagiaan ada pada menemukan ‘makna’ di dalam pekerjaan daripada mendapatkan pekerjaan sesuai ‘passion’. Karena ternyata seperti yang Vallerand temukan, bahwa tidak semua yang ‘passionate’ itu ujungnya bahagia, sampai akhirnya dia menemukan jawaban pada perbedaan proses internalisasi passion secara teori self-determination (Ryan & Deci), apakah secara otonomi atau terkontrol-lah yang lebih berperan, bukan sekedar punya passion.
    Passion sendiri mmg variable psikologi yang terhitung ‘muda’, uji konstruksi dan dinamikanya dengan variable lain belum terlalu banyak. IMO, bahkan dengan alat ukurpun, ketika membuat kerangka berpikir teori dan operasionalnya, masih sedikit sulit untuk keluar dari area abu-abu pseudo-science. Apalagi jika passion hanya dinyatakan berdasarkan kepercayaan pada omongan dan quote penyemangat saja. Hehehehe.
    Btw, saya pernah dibantu Mbak Mita menyebar alat ukur di kantor Mbak untuk tesis saya, yang kebetulan iv-nya passion (Vallerand) dan dv-nya subjective well-being (Diener), dengan mediator Flow (Csikszentmihalyi), karena subjeknya pekerja kreatif ber-setting industri kreatif. Hehehe. Terima kasih banyak ya Mbak. Karena hasil baca saya soal Flow ini banyak sekali mengutip soal ‘makna’, saya sangat menantikan tulisan Mbak selanjutnya tentang makna.. 😀

  5. Simplenya gini, kalo anda harus memilih kerjaan/bisnis di bidang baru, apa yang harus dijadikan bahan pertimbangan utk memilih? Gaji/profit, ok. Berikutnya suka ato gak suka. Gak perlu pake2 slogan passion dan penjelasan passion itu apa, simple “suka ato gaksuka ngerjainnya”. Pasti ada bidang dan kerjaan yang Mbak Paramita suka dan tidak suka. Pasti pilih yg “suka” kan?

    Makna. Kalo ada 2 kerjaan/bisnis yg sama2 bermakna, trus pertimbangan memilihnya pasti “suka ato gak suka”.

  6. Passion hanya satu diantara, banyak penyemangat lain dalam bekerja/berkarya. Yang lain adalah Makna, apresiasi psikologis, reward. dll.
    Tapi kl lita lihat kebanyakan karya2 besar itu dihasilkan karena penyemangat nya Makna & Passion. Seperti bahan bakar. Karena menghasilkan karya besar gak mudah, perlu dedikasi tenaga, pikiran dan waktu. Tanpa bahan bakar tsb, gak bakal bisa bisa menghasilkan karya besar. Terlihat lah hasil karya (produk, jasa, company, kerjaan karyawan) yg dihasilkan oleh org2 yang pemyemangatnya uang. Bandingkan dengan hasil karya yg penyemangatnya makna dan passion.
    Ive been there. Kerja di gaji gede, jadi arsitek di hongkong, gak ada maknanya, gak suka proyeknya. Designing property development in china.

  7. jarwadi says:

    saya sendiri kurang mengerti apa makna passion dalam bahasa Indonesia. mencari value dari apa yang kita kerjakan sehari-hari saya sepakat ini bisa lebih membuat seseorang survive dari derita pekerjaan. seorang peneliti mungkin akan betah menghabiskan separoh hidupnya di lab meneliti virus HIV, karena dia tahu menyelamatkan umat manusia adalah sebuah makna

  8. Saya tertarik dengan tulisan anda mengenai Psikologi. Perkembangan psikologi manusia sekarang ini harus sangat diperhatikan agar mereka tidak berkembang dengan mental yang salah. Saya memiliki beberapa tulisan sejenis mengenai psikologi yang dapat dilihat di Disini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s