LGBT, life in general

Film romantis dan menghibur untuk Hari Valentine, versi LGBT

Image

Photo Credit: smileham via Compfight cc

Bertahun-tahun yang lalu, di tengah suasana rapat yang serius, tiba-tiba seorang mantan klien saya —wanita direktur pemasaran sebuah perusahaan dari industri yang didominasi pria— mengutarakan keheranannnya. Ia mengajukan pertanyaan yang bagi saya saat itu dan sampai sekarang terasa jujur dan naif: “Kenapa kaum gay sepertinya senang sekali dengan hal-hal yang bertema gay, seperti bar gay, film gay, dan novel gay?”

Masih dengan nada heran, ia melanjutkan, “Kita kan tidak pernah melihat ada bar yang mengumumkan bahwa tempat itu adalah bar straight? Kita kan tidak juga melihat novel atau film yang dibubuhi label straight?”

Percaya dengan kenaifannya, saya menjawab sambil tersenyum, “Kan semua hal yang dibuat di dunia ini dengan otomatis diasumsikan buat  straight atau tentang  straight. Kalangan gay macam saya kan kadang-kadang ingin juga menikmati sesuatu yang khusus ditujukan buat saya, atau tentang saya. Menyenangkan sekali-kali merasa ‘dianggap’, kan?”

Klien saya tertawa mendengar jawaban itu, dan mengucap, “Oh iya, ya,” sebelum kami melanjutkan ke materi rapat tersebut. Saya ingat pasti, tidak ada sesuatu yang dramatis terjadi sesudahnya.

Jawaban tersebut masih relevan sampai detik ini. Default audiens dari materi budaya pop tentunya adalah kalangan straight sebagai  mayoritas. Akibatnya, kerinduan kalangan LGBT untuk menikmati materi budaya pop yang berkisar tentang kehidupan kita pun akan terus ada, apalagi pada momen seputar Hari Valentine seperti sekarang.

Karena itu, kemarin saya lewat Twitter @nickynmita minta tolong ke beberapa pembuat dan resensi film di Indonesia yang menurut saya akan tahu banyak tentang film LGBT. Saya minta mereka membantu mengusulkan judul film LGBT yang cukup menghibur, syukur bisa membesarkan hati, buat diputar dalam rangka Hari Valentine. Orang-orang yang saya minta tolong adalah Paul Augusta (filmya Parts of The Heart sungguh saya sukai), Joko Anwar,  Rizal Iwan, dan Leila S. Chudori.

Berikut ini adalah film-film yang mereka usulkan:

Beautiful Thing (1996, sutradara Hettie MacDonald, UK).

Film ini mempunyai plot klasik boy-meets-boy di kalangan kelas bawah London. Untung film komplitnya tersedia di sini.

 

Get Real (1998, sutradara Simon Shore, UK). Plotnya mirip Beautiful Thing, tapi di kalangan sekolah elit di Inggris. Film lengkapnya bisa dilihat di sini.

 

Trick (1999, sutradara Jim Fall, US). Ini film komedi yang bermulai dari kesulitan logistik untuk melakukan one-night-stand. Film lengkapnya bisa dilihat di sini.

 

The Broken Hearts Club: A Romantic Comedy (2000, sutradara Greg Berlanti, US). Film ini mengisahkan beberapa karakter yang senang nongkrong di sebuah restoran di West Hollywood, dan masalah hidupnya masing-masing. Sayang saya tidak bisa mendapatkan link yang terpercaya ke film lengkapnya.

 

Big Eden (2000, Thomas Bezucha, US). Seorang seniman New York harus mudik ke kota kecil untuk merawat kakeknya yang sakit. Ia harus menjalani kembali masalah yang menggantung dari masa lalunya. Lagi-lagi saya tidak bisa menemukan link yang aman ke film lengkapnya.

  

Peter’s Friend (1992, Kenneth Branagh, UK). Film ini pantas ditonton untuk melihat seni peran prima dari aktor Inggris kenamaan di masa muda mereka. Bintang utama film ini adalah Stephen Fry, 20 kg yang lalu. Pada sebuah akhir minggu, teman-teman lama kembali berkumpul di rumah Peter. Setiap orang membawa dramanya masing-masing. Film lengkapnya bisa dilihat dalam playlist ini

 

Mengapa semuanya tentang film tentang lelaki gay? Memang film lesbian lebih sedikit jumlahnya daripada film gay. Mungkin ini adalah salah satu konsekuensi dari industri film di Inggris dan Amerika yang masih didominasi produser dan sutradara laki-laki. Tapi jangan kuatir, ada beberapa film lesbian yang menyenangkan untuk ditonton.

Kissing Jessica Stein (2002, sutradara Charles Herman-Wurmfield, US). Komedi ini berputar dari perjalanan mencari kekasih dari seorang wanita di New York. Film ini membuktikan bahwa kesan hangat, manis, dan menyenangkan bisa diperoleh tanpa akhir yang klise dalam sebuah film. Sayang, saya tidak berhasil menemukan link aman ke film lengkapnya.

 

It’s in The Water (1997, sutradara Kelli Herd, US). Film komedi ini menceritakan plot kisah cinta klasik di tengah-tengah kepanikan moral yang disulut oleh homofobia. Film lengkapnya bisa ditonton di sini.

***

Saya memang sengaja tidak memasukkan film LGBT yang lebih membuat kita berpikir daripada terhibur. Hari Valentine adalah sesuatu yang ringan dan tidak perlu dianggap serius. Mari kita bicara soal film LGBT yang serius dan profound dalam kesempatan lain.

Standard